Rabu, 25 Oktober 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 4

Ran memuntahkan kembali potongan apel yang baru saja ia telan. Itu makanan pertama yang ingin ia makan sejak terbangun dari bius. Namun ternyata perutnya belum bisa menerima apapun, selain air putih yang dipaksakan. Kepalanya sangat berat. Luka bekas operasi terasa berdenyut saat bergerak.

Beberapa kali darah naik ke selang infus, namun itu tak lebih parah dari mual yang ia alami. Seorang perawat membawa nampan makan siang dan obat. Ran enggan menyentuhnya, melihatnya saja membuat perut kembali bergejolak.

Dengan sabar Doni menyuapkan nasi dan kuah lauk bacam tahu. Telur rebus ia singkirkan karena Ran tidak suka.

Sungguh lebih pahit dari menelan pil tanpa air. Ran mengerang. Doni menjauhkan sendok dan nasi yang baru beberapa butir masuk ke mulut.

“Jangan dipaksa, biarkan perutnya tenang dulu.” Lani datang membawa seikat kelengkeng dan sebungkus nasi padang. Wajah dan rambutnya terlihat lebih segar.

Doni mengernyit, prihatin. Digenggamnya tangan Ran.

“Makan dulu saja. Biar aku yang menjaga Ran.” Diulurkannya bungkusan nasi padang yang membuat perut tiba-tiba menjadi tak terkendali. Tapi Doni tampak  enggan.

“Makan dulu saja, mas. Aku nggak mau kamu ikut sakit.” Ran mengangguk. “Thanks, Lan.”

“Bagaimana keadaanmu?”

Ran mengangkat bahu sambil mengerang karena perutnya tiba-tiba perih. Lapar dan mual. Lani memijit kakinya.

“Tidak apa-apa. Itu efek obat biusnya. Yang penting perbanyak minum air putih.” Ran memejamkan matanya.

“Ah, kak Ira belum datang ya?”

“Mungkin sebentar lagi. Mau aku hubungi?” Lani mengeluarkan ponselnya. Ran menyebutkan 12 digit angka.

Belum sempat nada panggilan terhubung, pintu terbuka. Kak Ira muncul, masih dengan ransel di punggung. Wanita itu langsung memeluk Ran.

“Bagaimana kondisimu?”

“Tak lebih baik dari robek tersangkut semak.” Ran tersenyum. Kak Ira melepaskan pelukannya, mengangguk kearah Lani yang sempat terabaikan.

“Ah iya, mas Iwan tidak bisa ikut. Belum bisa cuti.”

Ran mengangguk. Bahkan ia sampai lupa wajah kakak iparnya. Pertama dan terakhir bertemu hanya saat pernikahan mereka.

Kak Ira menurunkan ranselnya. Ran baru menyadari sesuatu.
“Kakak hamil?”

Kak Ira tersenyum, meski agak kaget. “Sebenarnya ini kejutan. Dua bulan lagi kakak mau pulang, tujuh bulanan di  rumah ibu. Tapi sepertinya kamu tak pernah terkejut dengan hal mengejutkan apapun.”

Ran mengakui itu. Ia bukan keturunan cenayang, tapi tebakannya sering benar. Selalu ada perasaan tertentu sebelum terjadi sesuatu.

***

Selasa, 12 September 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 4

“Jangan terlalu memaksakan diri, Ran.”

Doni muncul dengan segelas coklat hangat. Beberapa kali ia memperhatikan jari Ran yang menekan tombol backspace. Ran menarik nafas lebih dalam. Tulisan di layar 14 inch itu terlihat mengambang.

“Minumlah dulu. Kamu sudah lelah dengan pekerjaan restoran. Kenapa masih memaksakan diri?” Tangan kekarnya memijit bahu Ran yang tipis. Ran sedikit menyeringai saat jari Doni menyentuh bagian yang pegal.

“Hanya untuk mengisi waktu luang saja kok.” Coklat hangat mengalir perlahan, membasahi tenggorokan yang dingin. Sesaat rasa hangat menggeleser dan terdiam di lambung.

“Ah ya, besok jadwalmu kerumah sakit bukan?” Doni menatap Ran. Wanita itu mengangguk.

“Tidak apa-apa, besok aku diantar Lani.” Ran tersenyum, memahami gurat penyesalan di wajah suaminya yang tidak bisa mengantar. Doni mencium keningnya yang selalu terlihat manis.

“Maaf, Ran..”

Ran menghabiskan sisa coklat dalam cangkir, lalu mematikan laptop. “Besok harus sudah dikirim, jadi aku usahakan selesai hari ini. Tapi ternyata punggungku sudah bosan..”

“Ran..bagaimana kalau kamu berhenti saja dari restoran?” Doni menggenggam tangan mungilnya. Ran terdiam, padahal sejak petang ia memang lebih banyak diam.

“Akan aku pikirkan lagi, mas.”

“Aku tidak memaksa, tapi jika berhenti membuatmu lebih baik, tolong lakukanlah.” Ran mengangguk.

Diantara beberapa ruangan, kamar mereka memang paling luas. Ran sengaja menggabungkan dua kamar, untuk meletakkan rak-rak buku. Perpustakaan mini.

Seri dari novel Supernova Ran koleksi. Beberapa buku karya DEE itu juga memenuhi rak paling atas. Disusunan paling ujung, buku dengan sampul hijau kumal terselip. Halamannya berubah coklat dan terdapat jejak air yang sudah mengering. Ran selalu menyimpannya disana, meski buku itu telah terbit dalam 8 cetakan. Ia lebih menyukai buku cetakan tahun 2009 tersebut, walaupun telah terbit seri keduanya. Disisi lain, karena ia telah mengetahui isi cerita seri kedua yang di filmkan juga, dan ia unggah di laptop. Ran tidak pernah ke bioskop. Tidak pernah suka. Baginya menonton sendiri atau membaca kisahnya diam-diam di sebatang pohon, lebih menyenangkan. Mungkin karena ia tak ingin terlihat menangis saat ada adegan yang mengiris sisi kolam air matanya.

Pernah suatu kali saat ke toko buku, Doni ingin membelikan buku yang sama, karena ia merasa buku kumal itu terlihat aneh jika ingin dijadikan koleksi. Namun dengan tegas Ran menolak.

Disusunan rak tengah, buku-buku karya Enid Blyton berdesakan. Mulai dari 21 seri Lima Sekawan versi asli sampai terjemahannya, lalu 15 seri Pasukan Mau Tahu yang semuanya kisah fantasi dan petualangan anak-anak. Di rak paling bawah, buku-buku dongeng dan kisah klasik berlimpah. Semuanya tersusun rapi, karena sebulan sekali Ran menyusun ulang dan tak membiarkan debu maupun kutu buku singgah.

Doni merapikan kertas-kertas yang berserakan. Semuanya cerita anak-anak buatan Ran yang dikirim mingguan dan bulanan di beberapa majalah. Sebulan sekali, Ran mengirim uang honornya dan beberapa majalah anak-anak yang menerima tulisannya, ke salah satu panti asuhan.

Bagi Doni, Ran jelmaan malaikat serba bisa. Wanita hebat yang penuh kasih sayang. Ia yang melawan malaikat mautnya, saat berada di jembatan layang, sekaligus menyingkirkan iblis yang selalu menggodanya untuk mendatangkan malaikat maut secara paksa. Ia yang selalu mengganti bunga lily putih setiap pagi di bibir jendela, saat terbaring di rumah sakit, padahal lily kemarin masih segar. Ia juga yang menikamnya dengan kalimat-kalimat lembut, selembut marshmellow yang saat digigit membuat ngilu gigi. Ran selalu membawa manisan itu saat mengunjunginya.

Semua kisah telah ia urai, Ran selalu mendengarkan tanpa pernah memotong. Bahkan ekspresinya selalu tenang meski itu kisah yang menyedihkan. Tapi Doni tahu, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajahnya seperti air sungai yang tak bisa ditebak, dan perlahan Doni melabuhkan cinta disalah satu tepinya, setelah berhasil melepaskan tambatan yang bukan miliknya.

*

Suara ibu masih terdengar jelas, meski terhalang pintu yang tak tertutup sepenuhnya. Ran enggan membuka mata, karena sekeliling terlihat berputar dan membuat mual. Ia merasa ada selang infus di tangan kiri. Seragam kerjanya pun sudah berganti menjadi pakaian berwarna biru dengan kancing dibelakang. Seingatnya, ia berencana ke rumah sakit saat jam istirahat. Namun saat di toilet, kepalanya terasa pusing serta mual, dan tiba-tiba terjadi pendarahan. Lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Keadaan semakin parah, pandangannya berputar-putar dalam gelap. Seperti ada titik-titik jingga diantara pekat yang memabukkan. Iapun pingsan.

”Jadi, ibu tidak akan pernah mendapatkan cucu dari dia?”

Suara ibu terdengar lebih keras dari petir. Sedikit bergetar dalam gendang telinga. Gejolak kecemasan dan kecewa yang tertahan. Ran menggerakkan sedikit kepala. Perut bagian bawahnya masih terasa sakit dan tertekan.

“Ibu, tolong jangan bahas masalah ini dulu.” Doni berusaha menenangkan ibu. Ran yakin, laki-laki itu pun belum cukup tegar.

“Doni juga tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya..”

Ran sedikit membuka mata. Sekilas bayangan Doni menatapnya dalam ketakutan. Lebih takut dari saat pertama kali dokter mendiagnosis bahwa Ran akan kesulitan hamil, karena ada miom yang berkembang di endometriumnya.

Wajah ibu diliputi goresan kekecewaan. Ran ingat, raut itu juga ia rasakan saat pertama kali Doni mengajak ke rumah, bahkan saat masakan Ran tak pernah sesuai dengan seleranya.
Ran sangat mual. Ia butuh kantong plastik. Seseorang mendekat. Derap kakinya tak berirama, seperti kuda bertapal sebelah.

“Lan..”

“Jangan banyak bicara dulu, Ran. Istirahatlah. Besok pagi, kamu akan dioperasi.”

Suara Lani terdengar lebih lembut. Tangannya menggenggam jari-jari Ran yang dingin dan pucat.

“Jangan khawatir, kamu pasti masih bisa hamil. Rahimmu tidak akan diangkat.” Lani berbisik, seolah tahu apa yang ingin Ran katakan.

Doni masuk tanpa ibu. Lani mundur dan memberi ruang untuk mereka.

“Sayang, kamu sudah sadar?” Ran hanya mengangguk. Ia menyembunyikan genangan air mata dengan mata terpejam. Tapi sepertinya tidak berhasil.

“Tolong, berjanjilah untuk sembuh..” Doni mencium air mata yang tak bisa disembunyikan itu. Lagi-lagi Ran hanya menggerakkan kepalanya.

“Istirahatlah. Aku masih harus pergi mencari darah untukmu. Besok siang kak Ira baru bisa datang, jadi tidak sempat mendonorkan darah untukmu.” Doni menggenggam tangan Ran. Lani memalingkan wajah ke jendela yang mengarah ke taman belakang rumah sakit. Sepasang burung gereja berlarian di hamparan rumput gajah. Salah satunya terlihat sedikit pincang, lalu terbang keatap bangunan seberang.

Ran tadi mendengar pembicaraan suster, bahwa persediaan darah O di rumah sakit sedang kosong, jadi harus mencari sendiri ke PMI. Ran tahu, salah satu kakak kembarnya itu pernah mendonorkan darah untuknya saat masih kecil. Ia tidak begitu ingat seberapa banyak darah yang keluar. Yang ia tahu, ada bekas jahitan di kaki kanannya setelah seminggu dibungkus kain kasa.

Suster datang, dan memberitahu bahwa  dari jam 12 malam ia tidak boleh makan dan minum, karena operasi akan dilakukan jam 7 pagi. Lani tak pernah beranjak dari sisi ranjang, jika tak diingatkan untuk mengganti seragam kerjanya oleh Ran.

“Lan, ibu dimana?”

Lani keluar sebentar dan kembali dengan mengangkat bahu. “Sepertinya ikut Doni ke PMI.”

“Aku mau menelepon ibuku.”

Lani mengangguk dan memberikan handphonenya.

“Ibu, ini aku..”

Tak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar. “Ran..” Kak Ara yang menjawab. Katanya ibu sangat sedih, karena tidak bisa datang. Ibu memang sudah terlalu tua untuk perjalanan jauh sampai Jakarta. Kak Ara pun tidak bisa datang karena menjaga ibu.

“Jaga diri baik-baik, Ran. Kami disini mendoakanmu. Kak Ira berangkat nanti sore dari rumah suaminya. Mungkin besok siang baru sampai.”

Ran menutup telepon. Ia tahu betul sifat ibu kalau anak-anaknya sakit. Ran tidak pernah menangis dihadapan ibu, bahkan saat kakinya robek tersangkut semak yang baru dipangkas.
“Aku akan baik-baik saja, Bu. Semoga baik-baik saja..”

Ruangan bernuansa biru langit, damai namun mencekam. Sesekali aroma terapi yang dipasang oleh Lani (katanya untuk menyamarkan bau dari cairan infus dan obat-obatan) menguap dari atas meja kecil. Ran menghirupnya dalam-dalam, tapi urung karena perutnya terasa ngilu saat menghirup terlalu banyak udara. Doni belum kembali sejak sore tadi, iapun memutuskan untuk tidur.

Sebuah kehangatan menelusuri wajah, mengusik mimpi tentang dua anak kembar yang dicengkeram ombak. Ran membuka mata. Doni mengulurkan sebotol air mineral. Jarinya memijit lengan kiri Ran.
“Kamu harus banyak minum, sayang. Sebentar lagi jam 12.”

“Mas, sejak kapan disini?”

“Sepuluh menit sejak kamu mengigau. Tadi mengantar ibu dulu, tidak apa-apa kan?”

Ran tersenyum. “Aku pun lebih tenang kalau ibu di rumah saja. Ahh, maksudku..aku nggak mau ibu juga sakit karena kurang istirahat disini.”

Doni mencium kening Ran. Hangat nafasnya sejenak melupakan bayangan meja operasi yang dingin.

“Tidurlah, aku akan menjagamu.”

“Lani dimana?”

“Aku memaksanya istirahat di rumah, mukanya sudah seperti benang berpaut. Kusut.” Doni tersenyum.

“Syukurlah. Dia sangat keras kepala.” Gumam Ran.

Benar saja, saat azan subuh ia telah muncul membawa roti hangat dan teh manis untuk Doni. Tapi sepertinya wanita berambut ikal itu lupa sesuatu yang membuat ruangan bertukar aroma. Ia tidak mandi dari kemarin.
**

Senin, 10 Juli 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 4

Hujan mengguyur saat Ran membuka pintu. Lani langsung pulang setelah mengantarnya, karena banyak cucian yang belum diangkat dari jemuran. Ran yakin wanita itu telah kuyup bersama motor matic merahnya.

Angin menampar-nampar daun jendela yang kurang rapat, menyibakkan tirai merah jambu dan meninggalkan titik-titik air di permukaaan kaca. Baru menjelang ashar, tapi langit tak peduli waktu. Ran menyalakan lampu, tapi ternyata  terjadi pemadaman listrik.

Doni mengirim pesan, ia kemungkinan pulang telat karena hujan pun mengguyur lebih lebat di daerah tempat kerjanya.

Kilat menyambar dua kali, menerangi ruang tamu kecilnya. Seperti radio usang, guntur mengerang lambat-lambat lalu makin keras. Sesekali sangat keras dan tiba-tiba tanpa disertai kilat, mulut Ran hanya komat-kamit membaca ayat-ayat suci. Ia menyesal kenapa Lani tadi tidak mampir saja dan membiarkan jemurannya disapu hujan. Toh, iapun pasti sudah kehujanan.

Tenggorokannya sangat kering, namun ia enggan ke dapur mengambil air minum. Kakinya malah melangkah ke jendela, menyeka titik-titik air dengan jari, mengukir namanya sendiri. Memorinya kembali terlepas, menghambur bersama butiran hujan yang sedingin es. Ia pernah berdiri disana, diantara kawanan hujan yang  mempermainkan gejolak hatinya. Maskara yang luntur, lipstick merah bata yang berganti abu-abu, lalu seseorang menyeka matanya. Memastikan ia tidak menangis. Tidak. Ia berjanji tak akan menangis ditengah hujan. Tentu sangat gelagapan, karena ia pernah melakukannya saat kecil. Ibu mengayunkan sapu lidi ke pantat, karena ia selalu pulang sekolah terlambat. Dan alasannya sudah ibu ketahui, mampir kesungai mencari anak udang atau ikan sepat pelarian dari empang saat banjir datang. Sangat sulit menangis ditengah hujan, karena ingusmu akan tercampur dengan air hujan yang bila terhirup membuat bersin berkepanjangan.

Beberapa tahun kemudian, seseorang menulis kata-kata aku ingin berjalan di derasnya hujan agar tak ada yang tahu bahwa aku sedang menangis.. Ran menggeleng. Ia tidak akan melakukan hal aneh itu.

Hujan tinggal rinai. Beberapa anak kecil terlihat membawa payung warna-warni. Pasti mereka akan mengaji. Anak-anak. Ran mengusap perutnya. Perih.

Doni tiba saat adzan maghrib. Untung listrik sudah menyala, Ran menyiapkan makan malam dan air hangat untuk mandi. Ibu menelepon saat mereka selesai shalat. Kamar ibu kebanjiran, ada atap yang bocor. Libur minggu ini Doni disuruh pulang, sekalian menjemput ibu karena ia sudah janji akan datang ke rumah mereka.

Ran pura-pura melipat mukena saat Doni menatap minta persetujuan. Tapi saat makan, ia berkata “Pulanglah, aku tidak apa-apa..”
*
Seperti yang Ran duga, sesampainya di rumah, Lani sudah kuyup. Tapi cuciannya sudah tidak ada. Itu artinya Pras di rumah.

Memang benar, ada mobil Nino terparkir di garasi. Ruang tengah nampak benderang, mereka bermain game. Tidak ada yang aneh. Lani pun hanya sekedar lewat dan menanyakan kapan pulang, lalu ke kamar mandi. Selesai mandi ia menyiapkan makan malam. Diatas kompor tercecer bekas mie instan dan bungkusnya. Lantai pun licin karena sepertinya ada air yang tumpah. Bahkan ketika ia menyadari, kamar mandi pun tadi begitu berantakan. Dengan segenap kesabaran yang ia peroleh dari saran Ran, wanita itu membereskan segalanya. Baju kotor yang berserakan ia kumpulkan. Sesekali air mata bergulir, namun cepat-cepat lengannya  menyeka. “Ah, andai aku tidak keguguran, aku pasti sedang menimang anakku. Mengurus rumah, menjadi ibu, dan ada penyejuk jiwa saat lelah..”

Ia memaki lantai yang licin. Tumpahan minyak yang memang wajar terjadi di dapur restoran. Gumpalan darah yang keluar saat ia mandi malam sepulang kerja. Dan kenyataan bahwa dirinya mendapatkan penghargaan sebagai wanita, sekaligus ketidakberdayaannya melawan takdir. Nyeri di perut hanyalah seiris dari perih dan sesal yang menggumpal. Meratap sepilu apapun, darah itu telah mati. Tidak akan kembali ke rahimnya yang hangat dan bersemayam disana selama 9 bulan, lalu lahir menjadi bayi manis yang dinanti-nanti. Atau Pras yang terbaring di rumah sakit itu, akan siap menerima kenyataan lain, bahwa ia tidak akan bisa menjadi seorang ayah lagi, bahkan dengan wanita lain sekalipun. Terlalu perih, seperti halnya tertusuk karang lalu terpelanting ke lautan. Tidak tahu mana yang lebih sakit.

Dua butir air mata kembali bergulir. Hangat di pipi yang beku. Ia baru sadar kalau jari-jarinya pun kedinginan.

Saat makan malam telah siap, ia hanya mengingatkan Pras untuk makan, sekalian temannya. Ia sendiri terlalu lelah, bahkan hanya untuk sekedar menyendokkan sesuap nasi. Mencium aroma masakannya sudah cukup untuk mengganjal perut. Namun merebahkan diri di kasurnya yang dingin tak mengurangi rasa lelah yang merajam. Jaket yang siang tadi dibeli masih tergeletak diatas meja. Ia sudah tidak  peduli.

Tengah malam ia terbangun, dan tak mendapati Pras disampingnya. Pasti ia tidur diruang tengah, bersama Nino. Hujan tadi petang masih menyisakan dingin. Kepalanya pening, nafas terasa hangat. Kakinya melangkah ke dapur untuk minum obat. Entah kenapa ia tidak ke ruang tengah yang gelap, untuk sekedar memastikan Pras tidur dengan nyenyak tanpa kedinginan. Ia bahkan tak khawatir, suaminya tidur dengan siapa, karena Nino teman laki-laki. “Bukan apa-apa..” Gumamnya sesaat setelah obat demam meluncur di tenggorokan.

*

Sabtu, 08 Juli 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 4

Lani mengamati Ran yang berjalan sedikit tertatih dari pintu masuk mall. Tubuhnya yang mungil selalu tergesa saat berjalan, bahkan terkadang terlihat seperti melompat-lompat ketika harus melewati sisi jalan yang berlubang.

“Sepertinya aku harus mencarikanmu banyak baju dan kerudung dengan pilihan warna lain, nanti.” Dengus wanita berkaos merah itu. Ran sibuk menyeka wajahnya yang kemerahan dengan tisu basah.

“Panas sekali..” Ran seolah tak mendengar sahabatnya yang selalu menggerutu saat mereka belanja baju bersama.

“Tahu nggak sih! Kamu dengan kerudung, long dress, dan rompi hijau itu..jadi mirip Tinkerbell.”

“Masa sih..haha. Lucu ya?”
Ran tertawa sambil mengimbangi langkah Lani. Di depan toko kacamata, ia melengos sejenak kearah kaca setengah cermin dan melihat penampilannya dalam gemerlap lampu mall. Hidungnya yang kecil dan runcing serta mata bulatnya memang membuat orang selalu mengira ia masih belasan tahun, bahkan tak menyangka kalau sudah menikah.

Lani menghentikan langkah disebuah toko jaket yang tak berpengunjung. Ia meraih beberapa jaket jenis parka berwarna hitam.

“Aku mau membeli jaket couple dengan Pras. Bagaimana menurutmu?”

Ran mengangguk setuju. Ia bersyukur karena mereka kembali akur.

“Ah, lebih bagus warna ini..” Ran menunjuk warna merah maroon. Tapi ternyata tidak ada ukuran yang pas untuk Lani.

Toko sempit yang tadi tak berpengunjung mulai didatangi beberapa pemuda, disusul sepasang kekasih__sepertinya, lalu seorang wanita pribumi bergaya bule, lengkap dengan rambut cat pirangnya dan celana diatas paha. Lani menarik tangan Ran karena merasa toko semakin sesak dan ia tak leluasa untuk memilih.

Merekapun singgah di toko jaket yang hampir sama, hanya kebanyakan jaket kulit. Sepi tak berpengunjung, namun beberapa menit kemudian mulai ramai sebelum Lani sempat menemukan yang ia cari. Lagi-lagi mereka keluar karena merasa sesak tanpa hasil.

Sudah empat toko mereka jelajahi, dan belum menenteng apapun. Lani menyantap es krim sambil memperhatikan sekeliling. Bahkan kursi di counter makanan yang mereka singgahi perlahan penuh dengan orang, padahal sebelah masih sepi.

“Kenapa orang-orang itu seperti mengikuti kita sih.” Gerutu Lani disela suapan es krim terakhirnya.

“Memangnya kenapa? Aku sudah biasa tuh sama mas Doni.”

Lani mengerutkan dahi. “Maksudmu, kamu biasa mendatangi toko yang sepi, lalu tiba-tiba toko itu menjadi ramai karena kedatanganmu?”

“Bisa dibilang seperti itu.” Ran sedikit acuh dan lebih menghiraukan ayam goreng yang ia pesan bersama segelas cola.

“Pantas saja, restoran tak seramai kalau kamu masuk..” Gumam Lani setengah tak percaya.

“Jangan berlebihan. Mungkin hanya kebetulan.” Sahut Ran.

Lani menghela nafas dalam-dalam. Ran terkadang memang terkesan pendiam dan tak berdaya  dengan tubuh mungilnya. Tapi siapa sangka, ia koki diatasnya? Bahkan sekarang di matanya, ia seolah memiliki daya tarik tersendiri.

Mereka kembali menjelajahi lima lantai dari mall di pusat ibu kota itu. Lani mendapatkan sepasang jaket kulit meski harus berdesak-desakan. Ran membeli sepatu wedges namun harus pasrah saat ukuran terkecil hanya 36, yang bagi kakinya masih terlalu besar.

Beberapa kaos juga Ran beli untuk Doni. Ia ingat pertama kali mereka membeli baju berdua, ukuran baju Doni M. Tapi sekarang dengan ukuran itu, terlalu sesak. Setelah menikah, Doni jauh dari laki-laki kurus pucat yang Ran temukan di jembatan layang 3 tahun yang lalu. Laki-laki yang ia perhatikan dari sisi lain jembatan__telah kehilangan separuh dari akal sehat yang ikut terkubur bersama jasad tunangannya. Mungkin terburai bersama darah yang merembes dari kain kafan, lalu hilang terbenam. Dan sisa dari akal sehat itu akan ia tikam dari atas jembatan layang.

Ran hanya memperhatikan, masih dari sisi lain jembatan.
Laki-laki berkemeja kusut itu mulai menjejakkan kaki di pembatas jalan. Retinanya yang redup menuruni batas ketinggian jembatan layang sepi dan menghanyutkan. Mendung menggantung, namun tak ada rinai. Hawa yang pengap membungkus angin agar tak melenakan. Tiba-tiba kilat menyambar. Tak ada bangunan yang melebihi tinggi laki-laki itu di atas jembatan, jadilah ia terkapar tersambar petir yang mengejutkan.

Sesaat Ran hanya bergeming. Tapi kaki kecilnya melesat kearah laki-laki yang tersambar petir itu. Nadinya masih berdenyut, meski beberapa bagian tubuhnya terbakar. Beberapa saat kemudian tempat itu ramai, dan ambulans pun datang.

“Kamu harus ganti dengan warna ini.” Lani membuyarkan lamunan, dan menyodorkan sehelai kerudung warna biru laut.

“Atau ini juga manis.” Warna coklat muda yang lembut memang cocok dengan bentuk wajah Ran yang berdagu runcing.

“Bolehlah. Aku ambil dua-dunya.”

Lani tersenyum puas. Merekapun beralih ke pusat buah dan sayur. Ran mengambil tiga macam paprika, dan bawang Bombay. Lalu daging asap, keju, dan jamur.

“Kamu mau buat pizza?”

“Yap. Buat ibu, katanya senin akan datang, mas Doni juga suka sekali.”

Senyum Lani seolah mengatakan, “Semoga berhasil..” dan Ran paham.


Kamis, 06 Juli 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 3

Hanya butuh tiga jam untuk sampai di rumah ibu, dengan bus malam. Itu sebabnya seminggu sekali Doni menyempatkan diri untuk menjenguk atau menginap. Sepeninggal ayah dua tahun yang lalu, rumah berpekarangan luas itu di kontrakkan sebagian.

“Ibu butuh uang untuk memperbaiki kamar mandi. Kemarin ada cacing yang menggeliat dari sela-sela keramik yg rusak. Ibu geli..”

Doni tertawa. Wanita yang baru terbangun tengah malam karena kedatangan mereka itu terlihat kesal. Doni sangat tahu ibunya paling jijik dengan hewan menggeliat itu.

“Baiklah, besok Doni bereskan. Apa lagi yang ibu butuhkan?”

Ibu menyebutkan beberapa hal tentang rumah dan kebutuhannya. Ran yang sedang membereskan kamar pura-pura tidak mendengar angka nominal terakhir yang disebutkan.

“Ya sudah, ibu tidur lagi saja sekarang. Doni juga mau istirahat.”

“Browniesnya enak. Beli dimana?”

Doni mengamati kotak pembungkus kue itu. “Oh, Ran yang beli di toko teman kerjanya. Tadi pagi dia bilang mau mengambil pesanan.”

Ibu termenung, Doni yang sudah berdiri kembali duduk. “Kenapa? Ada yang ibu pikirkan?”

“Kemarin malam ibu mimpi bertemu Ratna. Dia juga suka kue ini kan?”

Ran muncul. Ditangannya tergenggam sebuah tasbih kayu berwarna coklat.

“Ah, ibu. Ini kayu stigi bukan? Aku menemukannya diatas almari.”

“Iya, itu sisa tasbih yang dibuat ayahnya Doni. Kalau mau, ambillah.”

“Benarkah? Terimakasih, Bu.” Ran kembali ke kamar menyimpan tasbih itu.

“Bu, tolong jangan membahas soal Ratna didepan Ran. Doni sudah mengikhlaskannya.”

Doni menyusul Ran ke kamar. Ia mengira akan menemukan istrinya sedang menangis mendengar pembicaraan ibu, tapi wanita itu sudah tidur nyenyak dengan tasbih yang tergenggam di tangan mungilnya. “Maafkan ibu, Ran.” Bisiknya.

Kamarnya sudah lebih rapi setelah Ran bereskan. Doni mengambil jaket ayahnya dan meraih saku yang tersembunyi. Selembar foto kecil terselip didalamnya.

“Ratna, maafkan aku..”
*
Teriakan ibu mengejutkan Ran yang sedang mengupas papaya muda untuk sayur. Mata pisau yang tajam menggores ujung telunjuknya. Doni berlari kearah kamar mandi, dan mendapati ibu di sudut dekat bak mandi dengan wajah pucat.

“Ular..” Desis ibu.

Seekor ular sawah meringkuk didalam ember. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi membuat ibu ketakutan setengah mati.

Doni mengambil karung, dan perlahan memasukkan ember berisi ular itu.

“Kau lihat lubang di dinding itu? Pasti ular itu masuk lewat situ.” Gerutu ibu setelah beberapa saat hilang kagetnya.

“Ya..nanti Doni segera perbaiki.”

“Sekarang. Atau menunggu ular yang lebih besar lagi masuk dan menelan ibu?”

Doni tersenyum. Ibu memang suka belebihan. “Baiklah. Doni mencari orang sekarang.” Wanita itu terlihat lega.
Siangnya, dua orang tukang datang. Ibu menunjukkan mana saja yang perlu perbaikan.

“Mas, maaf tapi aku harus ke Jakarta sore ini. Lani menelepon katannya ada acara mendadak di resto, jadi besok aku masuk kerja.”

“Ya sudah. Kamu berani sendiri kan? Aku harus menemani ibu dulu sampai semua selesai.” Ran mengangguk.

“Istrimu nggak pernah betah ya, di rumah ibu.”
Ran terkejut. Ibu muncul tiba-tiba, dan mungkin mendengar pembicaraan mereka.

“Ah ibu, maaf. Bukan begitu, tapi aku..”

“Iya, Bu. Ran memang kemarin hanya ijin dua hari, karena di kerjaannya sedang banyak acara.” Doni menimpali.

“Kalau kalian hanya memikirkan soal kerjaan, kapan kalian akan punya anak?” Suara ibu terdengar ketus. Ran terdiam. Ia tahu pada akhirnya ibu akan menanyakan hal ini.

“Ibu tenang saja, pasti tidak lama lagi, kan sayang?” Doni menggenggam tangan Ran.

“Iya..” Ran tercekat. Ia tidak tahu bagaimana kalau ibu tahu yang sebenarnya.


Mendung menggantung bersama dengan angin yang membawa rinai hujan. Ran merasa sedikit lebih aman, saat berada di dalam bus. Perlahan hujan mulai datang, diiringi gemuruh yang menyatu dengan pekatnya senja di Bandung.

Minggu, 14 Mei 2017

Rumah Diantara Kabut_bagian 3

Taxi berwarna biru laut itu menembus malam yang hampir berakhir. Diatas jalan layang menikung, sang sopir membunyikan klakson tiga kali bersamaan dengan bibirnya yang membaca ayat suci.

“Memangnya harus ya?”

“Oh, buat jaga-jaga saja mbak. Meski beda dimensi, secara kasat mata kita berdampingan dan tak ada salahnya saling menghormati.”

Wanita itu memandang keluar. Jalanan sepi, namun sopir taxi menyetir dengan hati-hati.

“Ngomong-ngomong..saya tahu, mbak sudah tidak bekerja di club itu. Tapi kenapa menunggu taxi disana?”

Wanita berjaket tebal dan berkacamata gelap itu terkejut. Setelah tiga kali pertemuan, kini ia yang salah tingkah, hanya dengan pertanyaan basa-basi.

“Eh, darimana kamu tahu? Ah, itu..kebetulan hari ini ada lembur mengecek barang sekalian promosi di cafĂ© dekat tempat kerja lama. Jadi yah, sekalian..”

“Saya kira mbak sengaja menunggu saya. Haha. Habis, tiap hari saya bawa penumpang lewat sana dan lihat mbak menunggu ditempat yang sama.”

“Eh, iya. Maksudku..bukan. Haha.”

Wanita itu menjadi sangat gugup. Terakhir perasaan itu muncul saat ia masih delapan tahun dan ditunjuk untuk memimpin pujian di gereja.

“Sudah sampai, mbak. Masih mau melamun?”

“Oh, ya ampun. Maaf.”

Sopir muda itu tertawa. Dan seperti pertama kali mengantarnya yang dalam keadaan setengah sadar. Ia tak pernah memandang secara langsung meski sedang berhenti seperti sekarang.

“Maaf. Ini..sarung yang waktu itu. Terimakasih.”

“Syukurlah sekarang mbak tidak perlu memakainya lagi. Haha..”

“Anggi.”

Wanita itu mengulurkan tangan, namun segera menariknya saat sang sopir hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada.

“M..maaf.”

“Saya, Ibrahim. Syarif Ibrahim. Kalau boleh saya sarankan, mbak tidak perlu menunggu taxi disana. Apalagi tidak semua sopir yang mangkal disekitar tempat itu baik-baik. Saya permisi dulu.”

Anggi masih berdiri sampai lampu mobil tak terlihat lagi. Ia memasukkan tangannya ke kantong jaket yang hampir menutupi lutut. Entah bagaimana, tapi ia yang tidak pernah memakai celana panjang sebelumnya menjadi sangat nyaman.

Dari pintu gerbang, ia melihat salah satu lampu ruangan menyala. Seseorang menunggu di kamarnya.

*

“Sejak kapan kamu disini?”
Anggi melemparkan tasnya dan meraih air putih di sudut kamar.

“Tadi malam jam delapan. Tapi kata mbak, Arumi udah tidur.”

“Baguslah.” Gumam Anggi yang bersiap-siap mau mandi.

“Klien kamu banyak yang nyariin tuh. Om Ferdi sampai maksa aku minta nomor kamu..”

“Terus kamu kasih??”

“Haha. Nggak lah.”
Farah menyalakan sebatang rokok, sambil mendengarkan suara percikan air. Suara speaker dari masjid mulai terdengar sayup-sayup. Ia pun mengambil  headset.

“Lapar nih. Kamu nggak punya sesuatu yang bisa dimakan? Kulkas kamu juga nggak ada bir sama sekali.”

“Ada sayuran sama roti. Nanti aku masak sekalian buat sarapan dan bekal Arumi.”

“Hahh! Sejak kapan kamu bisa bikin masakan layak makan? Seingatku, terakhir kamu mau buat omelette malah jadi telur orak arik.”

Anggi tak menjawab, sibuk dengan hairdryer yang berdengung. Farah meraih HP Anggi, menelepon restoran cepat saji.

*

Rumah mungil berwarna-warni namun bukan terbuat dari kue dan gula-gula yang menarik perhatian anak kecil untuk mencomot sebongkah, tanpa sadar ada penyihir jahat yang bersembunyi untuk menangkapnya. Tapi didalamnya memang banyak kue-kue menarik, dan beberapa permen warna-warni. Disudut ruangan, sebuah etalase berisi beberapa tart asli dan replika di rak sebelahnya. Seorang pengunjung masuk, ibu muda dan anak laki-lakinya yang berumur lima tahunan. Mengambil pesanan tart ulang tahun, dan beberapa kotak cupcake. Pemilik toko memberi bonus permen boneka jahe kepada anak laki-laki bermata sipit itu.

Ran mengambil sebungkus mini pizza, lalu duduk di meja dekat pintu masuk. Pemilik toko membawakan segelas jus jeruk.

“Kamu semalam tidur di toko?”

“Hmm, ya.”

“Pras..dia tadi malam telepon. Kamu buat khawatir saja..”

Lani tersenyum kecut. Ran menggigit mini pizza dengan beberapa irisan smoke beef  dan paprika. “Saus tomatnya kurang. Jadi terlalu garing.”

“Itu pegawai baru yang buat. Katanya takut aku marah kalau terlalu banyak mengoles sausnya. Padahal aku sendiri yang mengajarinya dari awal. Huhh..”

“Hari ini, kamu mau menginap disini lagi?”

Wanita dengan celemek bergambar semangka itu membuang pandangannya ke jalan raya. Ibu muda dan anak kecilnya tadi sedang menikmati permen, sambil menunggu taxi.

“Nggak. Nanti malam aku pulang.”

“Ah, baiklah. Aku ke rumah ibu malam ini. Beritahu aku kalau ada apa-apa.”

“Kamu yakin, mau membawa itu? Yah, meskipun katamu makanan kesukaannya..”

“Tapi bukan aku yang membuatnya kan? Lagi pula, ada mas Doni. Mungkin, tidak apa-apa..”

Ran menjinjing sekotak brownies ketan hitam. Bagian atas kotak bergambar koki wanita gemuk dan sebuah rumah mungil. Lani’s Ginger House.

*

Minggu, 23 April 2017

Rumah Diantara Kabut__bagian 3

Batu nisan berwarna gelap itu penuh kuntum kamboja dan beberapa tangkai bunga liar. Hembusan angin sore menebarkan aroma makam baru dari beberapa sisi pemakaman.

“Sudah cukup, Eja. Sekarang ayo berdoa buat Mama.”

Anak kecil itu meletakkan bunga terakhir lalu berlutut. Matanya terpejam, mendengarkan ayat-ayat suci yang belum dimengerti olehnya.

“Ssstt..Papa. Itu artinya apa? Apa mama ngerti artinya?”

“Besok kalau kamu sudah pandai mengaji, pasti tahu. Yang jelas, untuk kebaikan mama di dunianya.” Sam mengusap kepala Eja.

“Papa, yang itu kenapa bunganya beda? Kenapa kita nggak beli bunga seperti itu buat mama?”

“Karena mama nggak suka. Mama kamu orang yang kuat, sekuat bunga liar ini. Meskipun tak pernah dirawat, ia tetap tumbuh menjadi bunga yang cantik.” Sam menjelaskan meski Eja tak paham.

“Pulang yuk, sudah sore. Oh iya, papa mau beliin buku baru. Nanti belajar membaca lagi ya.”

Eja mengangguk senang. Diciumnya batu nisan yang kini harum kamboja, lalu menggandeng Sam.

“Aku pulang dulu, kak. Eja akan baik-baik saja bersama aku dan ibu. Tenanglah di sisi Tuhan.”

“Papa mau beliin buku apa?”

“Tinkerbell. Kamu pernah dengar?”
Eja menggeleng.

“Kisah peri kecil yang pemberani. Eja pasti suka. Nanti sekalian buku berhitung yang ada gambar hewan-hewannya. Eja kan sebentar lagi sekolah.”

Tapi anak kecil itu tidak menjawab karena terlelap oleh hembusan angin. Sam menepikan motornya sebentar untuk memindahkan Eja kedepan dan mengikatnya dengan jaket.

*

Dua wanita cantik dengan dua jenis minuman bebeda. Aroma green tea yang hangat terusik oleh dua botol minuman distilasi khas Korea. Beberapa kali wanita berambut pirang itu menyodorkan segelas kecil minuman bening yang sekilas seperti air putih biasa. Namun temannya itu lebih menghiraukan beef bulgogi harum yang masih mendidih diatas kompor.

“Apa sih, jangan bilang kamu sudah tobat ya!”

“Kenapa? Bukan urusan kamu kan, aku mau menjadi seperti apa? Kita hanya teman, kamu itu mendung yang selalu membuatku lupa jalan pulang. Haha.”

“Haha. Cih..ngutip dari TPA mana kata-katamu itu? Oh iya, gimana Arumi?”

“Baik. Dia sudah mulai sekolah.” Anggi membungkus sepotong daging bulgogi dengan daun selada dan sedikit saus doinjang.

“Jadi, kapan kamu akan memberitahu yang sebenarnya? Aku rasa dia sudah cukup mengerti. Bagaimanapun, dia darah dagingku..”

“Tapi aku yang memungutnya dari selokan, dan dia hampir mati beberapa kali. Jangan pura-pura lupa deh!”

“Yah, habis waktu itu aku bingung banget. Kalau sejak awal kamu nggak melarang aku minum pil itu, kita nggak repot begini.”

Muka Anggi merah padam meski bibirnya sama sekali tidak menyentuh soju. Ia menenggak habis green teanya.

“Farah, dengar. Aku sama sekali nggak keberatan membesarkan Arumi. Dia anakku, meski lahir dari rahimmu. Jadi, jangan sekali-kali mencoba mengambilnya dari tanganku!”

Farah kaget dengan reaksi tak terduga Anggi. Ditenggaknya dua gelas soju terakhir.

“Kamu kenapa berubah begitu sih? Jangan-jangan..ya ampun. Kamu jatuh cinta?”

“Aku cuma bosan hidup begini. Aku pulang dulu.”

“Apa? Arrghh..tunggu. Ini buat Arumi.”


Anggi meraih bingkisan itu, lalu pergi meninggalkan Farah yang masih belum mengerti. Wanita itu tertegun untuk sesaat. Hanya sesaat, karena tak lama ia memesan dua botol soju lagi dan menelfon kliennya.
*